[Cetak]
 4 September 2014 00:00:00
Energi Aman dan Terjangkau Menjadi Prioritas ASEAN

 


 

Penyediaan energi yang andal dan terjangkau menjadi syarat untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi sekaligus mengingkatkan taraf hidup masyarakat ASEAN. Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Jenderal Ketenagalistrikan, Ir Jarman MSc saat menjadi Keynote Speaker pada Workshop on Coal-Fired Power Generation in South East and East Asia Region yang diadakan di Jakarta Rabu (3/9). “Kemampuan negara-negara di kawasan ASEAN untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan taraf hidup warga negaranya harus sejalan dengan penyediaan energi yang andal dan terjangkau,” ujarnya.

Workshop yang diselenggarakan di Hotel Kempinski tersebut dilaksanakan secara bersama oleh Economic Research Institute for ASEAN & East Asia (ERIA) dan International Energy Agency (IEA). Workshop ini dilaksanakan untuk meninjau penyediaan tenaga listrik dari bahan bakar batu bara yang digunakan oleh sebagian besar negara-negara di kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur, tantangan dan solusi teknologi yang terjangkau. Acara ini dihadiri oleh penyedia jasa utilitas tenaga listrik di ASEAN, perwakilan ASEAN Forum on Coal (AFOC), Asosiasi pengusaha Batubara Indonesia (APBI), PT. PLN, Japan Coal (JCOAL), dan akademisi.

Dimana diketahui bahwa sejumlah sumber daya energi telah masuk ke dalam jaringan tenaga listrik, termasuk nuklir, air dan energi terbarukan, namun pembangkitan tenaga listrik yang memenuhi beban dasar masih menggunakan bahan bakar fosil khususnya batubara. Hal tersebut dikarenakan batubara merupakan solusi penyediaan tenaga listrik yang cukup aman, handal dan terjangkau pada skala yang cukup besar dan dapat dibangun dalam waktu yang singkat. Bahkan saat ini tulang punggung penyediaan tenaga listrik dunia berasal dari batu bara yang mencapai 40%. Pemanfaatan batu bara untuk pembangkit listrik bartambah sangat signifikan dalam lima tahun terakhir, bahkan tercapai tambahan kapasitas hingga 350 GW. Bahkan batubara sebagai tulang punggung penyediaan lebih dari setengah tenaga listrik di dunia.

Namun seperti pepatah No Pain, No Gain, segalanya memiliki resiko,” ujar Jarman. Menurutnya tanpa tindakan yang pantas untuk mitigasi dampak yang timbul maka dapat mengancam iklim global. Selanjutnya untuk mengatasi dampak tersebut, teknologi yang sudah terbukti (proven technology) dan komersial (comercially sound) dengan memanfaatkan Clean Coal Technology seperti penerapan teknologi Super-Critical dan Ultra Super-critical di pembangkit listrik skala besar, menjadi suatu peluang kerjasama internasional yang saling menguntungkan.

Untuk itu, kerangka kebijakan nasional dan regional termasuk mekanisme pembiayaan yang didukung oleh perbankan nasional dan dunia menjadi satu kesatuan yang padu sebagai penyangga pertumbuhan ekonomi regional dan dunia. Dalam penutup sambutannya, Jarman menyampaikan bahwa meskipun masih banyak pekerjaan yang harus dikerjakan, sebaiknya dikerjakan bersama. “Saya berharap melalui workshop ini akan membuka peluang saling berbagi pengetahuan dan kerjasama yang menguntungkan para pihak terkait untuk penerapan Clean Coal Technology baik di dalam negeri masing-masing maupun di kawasan ASEAN,” tutupnya.

Dalam sambutan selanjutnya, Executive Director ASEAN Center for Energy (ACE) Christopher Zamora menyampaikan dukungan ACE kepada ERIA dan IEA atas workshop ini. Menurutnya peran batubara dalam konsumsi energi dunia terus meningkat, termasuk konsumsi energi final di ASEAN mencapai 10,3% pada tahun 2011, dari 6,6% pada tahun 2002, dan ACE memproyeksikan konsumsi tersebut akan terus meningkat hingga 13,5% pada tahun 2030. Sementara itu, batubara sebagai energi untuk pembangkitan tenaga listrik meningkat, dari tahun 2002 yang sekitar 23,6% menjadi 33% pada tahun 2011, bahkan diproyeksikan meningkat tajam hingga 47,4% pada tahun 2030 dalam skenario Business-as-Usual (BAU).  Hal ini menjadikan batubara sebagai sumber utama pembangkitan tenaga listrik di tahun 2030. Hal ini dilandasi alasan bahwa biaya produksi dan transportasi yang murah, penyediaan bahan baku yang berlimpah menjadi pilihan sejumlah negara menjadikan batubara sebagai sumber utama pembangkitan listriknya hingga tahun 2030.

Secara global saat ini citra batubara merupakan produk kotor yang berkontribusi terhadap pemanasan global serta berdampak pada lingkungan dan kesehatan manusia.  Namun sebagaimana telah disampaikan Jarman sebelumnya, saat ini telah tersedia teknologi untuk pemanfaatan batubara yang lebih ramah lingkungan melalui Clean Coal Technologies (CCT) yang dapat mengurangi emisi karbon berbahaya. ACE meramalkan akan terjadi pertumbuhan pemanfaatan batubara dan CCT di dekade mendatang di mana seiring dengan inovasi teknologi, regulasi lingkungan dan hal lain yang mempengaruhi dinamika industri. Di balik itu, belakangan ini muncul gerakan untuk membatasi dukungan finansial dari negara maju dan perbankan internasional untuk pembiayaan pembangkit batubara baru.

ACE  mengharapkan workshop ini dapat menyentuh isu ini dalam konteks ketahanan energi di kawasan ASEAN dan Asia Timur dan batubara sebagai sumber daya ekonomi untuk pembangunan dan perkembangan. Christopher melanjutkan, kerjasama batubara ASEAN di bawah payung the ASEAN Plan of Action for Energy Cooperation (APAEC) 2010-2015, menyatakan bahwa tujuan kerjasama adalah untuk mendukung pengembangan dan pemanfaatan CCT dan memfasilitasi perdagangan batubara di kawasan ASEAN  melalui peningkatan ketahanan energi regional,  juga bekerjasama mempromosikan pertumbuhan yang berkelanjutan dan pemanfaatan batubara seiring dengan upaya mengatasi dampak lingkungan. ACE  dan the  ASEAN  Forum  on  Coal  (AFOC) memiliki sejumlah kerjasama regional terkait batubara. Christopher menutup sambutannya dengan menyatakan bahwa ke depannya, APAEC 2016-2020, program CCT masih akan menjadi pendorong kerjasama energi regional ASEAN.

Seusai pembukaan workshop dilanjutkan dengan press conference yang dihadiri oleh Dirjen Ketenagalistrikan Jarman, Keith Burnard dan Shigeru Kimura. Pada kesempatan itu, ketiganya kembali menegaskan pentingnya pemanfaatan batubara sebagai sumber energi yang mendukung pertumbuhan ekonomi di kawasan regional ASEAN, namun perlu didukung dengan teknologi yang telah terbukti ramah lingkungan, dan pembiayaan perbankan atas investasi infrastruktur ketenagalistrikan. (RBS/PSJ)